SUDAHKAH ANDA BERDOA DAN MENYAPA TUHAN HARI INI?

Sabtu, 18 Februari 2012

BERBAHAGIALAH ORANG YANG BERDUKACITA

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur”
Matius 5:4
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata ‘dukacita’ adalah kesedihan dan kesusahan hati. Jadi berkaitan dengan suasana hati. Dukacita adalah suatu kepedihan karena kehilangan yang menggoncangkan jiwa. Penyebab utamanya adalah kehilangan apa yang kita miliki dan tidak terpenuhinya keinginan kita. Contohnya adalah kematian seseorang yang kita kasihi, kehilangan pekerjaan, kegagalan bisnis, kebangkrutan akibat  kesalahan perhitungan, bahkan kematian binatang peliharaan pun bisa mendatangkan dukacita yang mendalam. Apakah pengertian yang demikian itu pula yang dimaksud Tuhan Yesus dalam sabda-Nya, “Berbahagialah orang yang berdukacita”? Jika benar, mengapa orang yang berdukacita justru disebut berbahagia oleh Tuhan Yesus? 


Jika kita perhatikan, bagian yang kita baca ini merupakan sabda bahagia kedua dari delapan seri ‘berbahagialah’. Kata ‘berdukacita’ dalam bahasa Yunani yang digunakan di sini adalah penthountes, yang artinya : orang-orang yang sedang berduka dan bersedih hati secara mendalam. Ada nuansa berkabung dan ngilu-nya batin yang sangat besar di dalamnya karena ketidakberdayaan menghadapi keadaan yang terjadi, seperti perlakuan tidak adil dan ketidakbenaran. Jadi dukacita di sini bukan hanya membuat orang-orang menangis tetapi juga membuat orang-orang sudah tidak mampu lagi menangis, kehabisan kata-kata untuk meratap. Itulah dukacita yang sering dialami oleh orang tua yang kehilangan anak kesayangannya. Itulah dukacita Yesus ketika mendengar Lazarus sahabat-Nya telah meninggal dunia. Itu jugalah dukacita Maria melihat anak sulungnya disalib dan mengalami kesakitan luar biasa, tanpa ia bisa berbuat sesuatu.

Jadi dengan mengacu pada bahasa aslinya (bahasa Yunani), kita dapat melihat bahwa arti kata ‘dukacita’ dalam bacaan kita ini bukan hanya sekedar bersedih dan uring-uringan karena suatu kegagalan tertentu dalam hidup atau karena kehilangan sesuatu yang kita miliki. Dukacita yang dimaksudkan dalam sabda bahagia ini adalah juga bukan dukacita yang terjadi karena kesalahan atau kebodohan kita sendiri. Dukacita yang dimaksud di sini adalah dukacita yang terjadi karena ketidakberdayaan menghadapi kenyataan hidup (terutama yang disebabkan karena ketidakadilan dan ketidakbenaran), yang mengakibatkan seseorang hancur dan remuk hatinya. Dukacita yang mengakibatkan seseorang merasa tidak lagi memiliki daya untuk dapat mengubah apa yang dihadapinya. 

Dengan memerhatikan kata Yunaninya, sabda bahagia kedua ini bisa dipahami dalam pengertian bahwa orang yang disebut berbahagia oleh Tuhan Yesus yaitu orang-orang yang secara harafiah dan kasat mata adalah orang-orang yang remuk dan hancur hatinya. Tidak punya siapa-siapa atau apa-apa untuk berpegang dan berpengharapan. Orang seperti ini hanya punya dua pilihan dalam hidupnya : 
  1. Memilih untuk membenamkan diri dalam kedukaannya dan tidak keluar-keluar lagi, seperti yang dilakukan Yakub pada saat mendengar berita bahwa Yusuf mati dicabik-cabik binatang buas (berkabung sepanjang hidupnya) dan Yudas Iskariot yang kemudian mengambil langkah bunuh diri dalam penyesalan.
atau  
  1. Memilih untuk datang berharap kepada Tuhan, dengan satu keyakinan bahwa Tuhan mampu menolongnya di tengah kedukaan yang dirasakannya.

Bagi yang memilih rute pertama, orang itu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dalam perjalanan hidup selanjutnya. Sedangkan, bagi yang memilih rute kedua, orang itulah yang disebut oleh Tuhan Yesus sebagai orang yang berbahagia, karena Allah akan memberikan penghiburan kepadanya dengan sukacita ilahi yang sejati, bukan dengan sukacita ala dunia yang mudah sirna dan mengecewakan.  

Jadi jika kita melihat pada penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak semua orang yang berdukacita secara otomatis disebut dengan orang yang berbahagia. Hanya orang yang dalam kedukaannya memilih untuk datang berharap kepada Tuhan sajalah yang akan mendapatkan penghiburan dan layak disebut dengan orang yang berbahagia. Seperti itukah diri Anda ketika berada dalam keadaan dukacita? Selamat merenungkannya. Tuhan memberkati. Amin.

(Renungan ini pernah disampaikan di persekutuan remaja dan disusun sesuai arahan dari buku Derap Remaja)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar